Deleng Pertektekken


Deleng Pertektekken dikenal sangat angker.
Apapun yang melintas di atasnya akan jatuh dan mati.
Kabarnya, tempat ini adalah tempat pembuangan ilmu sakti dari seorang dukun. Konon, jatuhnya pesawat Foker di sekitar pegunungan Sibayak disebabkan pula oleh keberanian awak pesawat tersebut melintasi daerah keramat ini.
Jangankan pesawat, kupu-kupu atau burung yang berani terbang di atas Pertektekken akan mati secara mengenaskan.
Memang, daerah yang terletak di kaki bukit Pertektekken di bagian Selatan dan berdekatan dengan gunung Sibayak memiliki kisah mistik yang menyeramkan.
Kisah itu berawal dari sebuah desa, Daulu yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempat ini.
Daulu terletak di bagian Selatan kota Medan, kira-kira 55 kilometer.
Konon di desa Daulu ada sepasang dukun sakti yang bernama Pawang Ternalem dan Beru Patimar.

Dikisahkan sepasang dukun tersebut sering mengembara ke berbagai daerah untuk melakukan pengobatan dengan meninggalkan kedua anakanya.
Kabarnya ketika mereka mengembara, kedua anaknya jatuh sakit.
Seorang tetangga mengabarkan berita menyedihkan ini kepada sepasang dukun tersebut.
Namun Pawang Ternalem dan istrinya menolak pulang.
Mereka berpikir, kalaupun anaknya sakit atau sampai meninggal dunia mereka toh bisa menghidupkan lagi.
Benar, selang beberapa saat tetangganya datang lagi dan mengabarkan bahwa anaknya telah meninggal dunia.
Sepasang dukun sakti ini enggan untuk pulang.
Pasalnya, hanya dengan satu centimeter tulang yang masih tersisa mereka mampu menghidupkan kembali anaknya.
Sial tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.
Ketika Pawang Ternalem pulang ke rumah, didapati kuburan anaknya telah kosong.
Kabarnya, jasad anaknya telah dicuri oleh dukun yang lebih sakti lagi.
Ia adalah Nini Kertah Ernala, penunggu gunung Sibayak.
“Bila ingin bertemu bentangkan kain putih.
Ingat, jangan menjamah anak itu karena bayangan tersebut akan lenyap,” pesan Nini Kertah.
Sepasang dukun tersebut menjalankan pesan Nini Kertah.
Ketika mereka membentangkan kain putih maka wajah kedua anak itupun muncul.
Karena rindu yang begitu mendalam, Beru Pattimar memeluk kedua anaknya.
Namun bayangan itupun tiba-tiba menghilang.
Pasangan ersebut sangat terpukul dengan kematian anaknya.
Apalagi mereka tak mampu menghidupkan lagi.
Rasa kecewa yang mendalam menyebabkan mereka sepakat untuk membuang ilmunya.
“Apalah artinya ilmu dan kekayaan yang kita miliki kalau anak kita tak bisa kembali.
Marilah sekarang juga kita buang semua ini,” katanya sambil menuju ke sebuah kaki bukit.
Sebelum memotong alat perdukunannya, Beru Pattimar sempat bersumpah, “Apapun yang nantinya melintas di atas kepalaku akan mati”.
Seketika tempat itupun seperti meledak, menerima sumpah saktinya.
Kabarnya sumpah sakti dari Beru Pattimar benar-benar menjadi kenyataan.
Penduduk yang mencari kayu di tempat ini sering menemukan bangkai burung yang mati.
Malah mereka pun sering menemukan bangkai harimau atau beruang yang mereka ambil kulitnya untuk membuat perhiasan.
Benarkah sumpah sakti itu yang menjadi sumbernya?
Hanya Tuhan Yang Tau…

masih menjadi perdebatan yang melemparkan ilmu itu adalah Guru Pertawar Reme yang dikuburkan di Kandibata atau Pawang Ternalem ras Beru Pattimar.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: