Ujung Genteng


photo by bram

Penjalanan ini begitu tiba2, bangun tidur ada kabar, “besok kita berangkat”,
Tiba2 banget, pusing memikirkan peralatan yang akan dibawa, tanpa banyak bicara langsung cabut ngumpulin peralatan sama logistik. Malemnya packing dengan peralatan yang seadanya.
6 orang memutuskan untuk melakukan perjalanan ini:
– R Irawan Satria (the-ir)
– Abram Derisco ST (bro)
– Desrienaldo ST (edo)
– Rama Emerald ST (‘mo)
– Faruli Azameya (pacul)
– Thopo Martha Akbar

Bandung
Rencananya kami mau berangkat pagi2 dari bandung menuju Sukabumi via Kereta Api, namun karena terhalang jarak dari Dayeuhkolot ke stasiun Ciroyom yang cukup jauh kami memutuskan untuk naik bis saja lewat terminal Leuwi Panjang. Karena malamnya kita udah capek nyari logistik n packing, akhirnya kita bangun kesiangan. Jam 10.45 kita udah sampai ke terminal Leuwi Panjang. Bis berangkat dari Bandung sekitar jam 11.30 dengan ongkos Rp 15.000,-

Sukabumi
Sampai di terminal kota Sukabumi jam 14.30, ternyata angkutan jurusan ke Surade terdapat di terminal Lembur Situ. Untuk menuju Lembur Situ kita menggunakan jasa angkutan kota jurusan Lembur Situ (warna kuning) naik dari pintu keluar Terminal Sukabumi dengan ongkos Rp 4.000,-

Lembur Situ
Sebuah Terminal kecil terletak di sudut Sukabumi yang dipenuhi bis jenis Elf. Di Lembur Situ tersedia bis Elf sampai jam 5 sore, selebihnya sepi. Kami ditawari Elf yang mengantar sampai ke Ujung Genteng, untuk enam orang mereka menawarkan tarif Rp 200.000,- Kami tidak mengambil tawaran itu, dan memutuskan untuk berjalan dari terminal Surade ke Ujung Genteng, karena hasil tanya-menanya jaraknya hanya 15 km. Bis berangkat dari Lembur Situ menuju Surade pukul 15.30.

Surade – Ujung Genteng
Jam tangan menunjukkan pukul 20.30 ketika kami sampai di terminal Surade. Istirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan ke Ujung Genteng, jalan kaki. Perut hanya diisi dengan 200ml air minum, bekal perjalanan ke Ujung Genteng. Ditengah perjalanan terlihat warung di pinggir jalan dengan lampu yang redup, ‘Pempek Khas Palembang’ jauh-jauh merantau ketemunya beginian juga. Setelah jalan sekitar 2 km, kami istirahat sejenak di sebuah Masjid yang kami lupa namanya karena hari terlalu gelap dan badan terlalu lelah untuk memperhatikan Nama Masjid. Jalan terus, lelah sudah terasa namun perlahan hilang karena canda tawa disela perjalanan. Terdapat papan rambu lalu lintas yang menjelaskan pertigaan jalan. Terlihat dengan jelas tulisan “Ujung Genteng 12 km”, besar hati kami melihatnya. Ditengah jalan ada angkutan yang menawarkan kami untuk mengantar sampai ke Ujung Genteng dengan ongkos Rp 6.000,-, namun dengan alasan yang ngga harus dijelaskan, kami menolaknya. Setelah melewati jembatan yang membentang di Sungai, lewat sedikit kita beristirahat dirumah kang Cepi. Lalu melanjutkan perjalanan villa yang ditunjuk kang Cepi, hanya 2 belokan dari rumahnya.
Alhamdulillah ketemu para peserta Tabligh yang baru pulang dari pertemuan, bisa numpang lagi. Kami melewati villa yang rencananya mau disewa, tapi niat kami urung karena melihat kondisi villa yang sangat mewah, tentu saja dompet kami tidak cukup. Dan juga, 2 belokan yang sangat jauh. Kita diantar sampai pertigaan sebelum kebun karet. Menginap di pos ronda, paginya kita mutusin naik angkot aja ke Ujung Genteng karena fisik sudah tidak kuat untuk jalan kaki.
* jangan percaya apa kata penduduk setempat!!! jarak Surade Ujung Genteng sebenarnya 24km. Plang rambu lalu lintas yang “Ujung Genteng 12 km” itu memang benar, 12 km menuju Pintu Masuk Ujung Genteng, menuju pantai masih 12km dari pintu masuk.
* Ongkos Surade – Ujung Genteng adalah Rp 7.000,-. Angkot jurusan Surade – Ujung Genteng hanya tersedia sampai jam 6 sore.

Ujung Genteng, Tenda Biru
Pagi itu hari minggu, akhirnya sampai juga kita di Ujung Genteng. Kita turun di pasar ikan Ujung Genteng, angin laut mendesis kencang menampar tubuh yang sudah lelah ini. Ransel2 yang masih penuh dengan perbekalan tersandar dipojokan warung, sambil menikmati pisang goreng kami memandang kearah laut, pemandangan yang sudah lama tidak saya lihat. Setelah mengisi perut dengan gorengan, kita cabut menuju Tenda Biru, pojok Ujung Genteng. dari pasar menuju Tenda Biru berjarak sekitar 2km, memasuki pintu hutan tempat latihan Angkatan Udara. Di pintu masuk hutan terdapat bengkel nelayan, tempat dimana kapal2 nelayan dibuat dan diperbaiki. Di Ujung Hutan terdapat tenda berwarna biru tempat mengambil air bersih dan tersedia listrik disitu.

Selang beberapa menit beristirahat di Tenda Biru, sekitar 1 km perjalanan kita mendirikan camp. Lokasi yang sangat strategis untuk mengakses ke semua tempat. Berpagi2 ria bermain dan bercanda dengan air laut, garis pantai yang panjang serta dasar laut yang terlihat jelas karena airnya yang jernih. Karakter yang khas dimiliki pantai ini, sampai sekitar 300meter kearah laut, kedalamannya hanya sampai lutut orang dewasa, itu waktu keadaan surut. Namun hati-hati melangkah, ada beberapa lubang yang lumayan dalam. Pinggiran pantai ditumbuhi dengan ganggang hijau, sehingga air laut tempak berwarna hijau dari kejauhan. Kita dapat ber-snorkling ria disini tanpa menggunakan peralatan. Matahari mulai naik perlahan, tiba2 ada orang lewat didepan tenda kami dengan menggunakan sepeda motor. Selang beberapa menit lagi2 sebuah sepeda motor lewat, dalam 2 jam pantai telah dipenuhi dengan wisatawan lokal. Lalu sebuah mobil parkir tepat disamping perapian tempat kami memasak nasi, rupanya kami memasang tenda ditempat yang salah. Ditengah jalan raya, sehingga suasana menjadi kurang nyaman bagi kami, cuek sajalah. Memasak nasi, lauk makan untuk mengganjal perut yang mlai keroncongan. Hingga sore datang, kita hunting2 foto, mulai dari foto narsis, sampai mendekat ke kumpulan burung camar yang lagi parkir. Sore hari kita bakar2an ikan hasil beli dari pasar untuk santap malam kami. Hingga malam tiba kami tertidur pulas, sampai pagi datang.

Ujung Genteng, Pantai Pangumbahan
photo by bram

Senin pagi
Setelah Packing, kita ke Tenda Biru ngambil air minum dan baterai kamera. Hasil ngobrol dengan Mang Ade (penjaga Tenda Biru), menyusuri pantai menuju arah Barat Daya terdapat pantai tempat Penyu bertelur, Pantai Pangumbahan, jaraknya sekitar 3km dari Tenda Biru. Sekejap kami bergegas menuju pantai tersebut. Terdapat bekas tenjung buatan yang sudah agak hancur ditelan umur didekat tempat kami mendirikan camp. Sekalian mendokumentasikan, kami bernarsis-ria di tengah hiruk pikuk aktivitas nelayan yang sedang memancing.
Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri pantai ditengah sengatan sinar matahari yang tidak kunjung redup. Ditengah perjalanan kami menyerah pada matahari, pindah jalur menyusuri jalanan desa mencari tempat berlindung dari panasnya matahari. Diatas batu2 gunung kami duduk beristirahat sejenak setelah 30menit perjalanan. Jam istirahat berakhir, kami melanjutkan perjalanan akhirnya berhenti lagi, persediaan air mulai menipis. Setelah memalui perjuangan yang sangat melelahkan akhirnya kami sampai di Pantai Pangumbahan, menakjubkan. Rasa lelah terbayar dengan pemandangan alam yang luar biasa, pantai yang sangat luas dan hening seakan menghapus dahaga setelah 4jam perjalanan. Gulungan ombak yang besar setinggi 4-5meter menerpa pasir2 halus yang tersusun rapi di tepi pantai. Tapi jangan hilangkan kewaspadaan disini, tarikan ombak sangat kuat dapat menarik anda ketengah laut karena pijakan anda adalah sekumpulan pasir2 halus yang tidak sanggup menahan tubuh. Benar2 pantai yang masih sangat perawan.

sunset

Di pantai ini terdapat penangkaran Penyu, tempat hewan yang unik ini dilestarikan. Malamnya anda bisa melihat penyu2 bertelur ditemani oleh Pak Sarimin, penjaga penangkaran penyu.

Penyu
Ada aturan2 tertentu yang musti dipatuhi untuk melihat penyu bertelur:
– ketika penyu memasuki pantai jangan bergerak sedikit pun
– jangan ada sinar apapun
atau penyu akan grogi dan kembali ke laut. Pak Sarimin pernah melihat penyu terbesar dalam hidupnya, Penyu Hijau Belimbing, besarnya segede angkot dan tangannya selebar 1,5 meter. Penyu yang sudah langka dan jarang sekali ditemukan. Jadi ngebayangin klo penyu itu muncul dihadapan kami dan menuju kearah kami untuk bertelur, tidak boleh bergerak atau penyu itu punah, tidak bergerak bisa mental sampai tengah laut.
Setelah melihat penyu bertelur, kami melanjutkan perjalanan pulang menuju pasar Ujung Genteng melewati jalur yang kami lalui sebelumnya. Mulai perjalanan pukul 23.00, sampai pukul 7.00 karena ditengah perjalanan kami tertidur karena ngantuk dan lelah.

Cikaso, Curug Luhur
photo by bram

Senin pagi
Setelah makan di sebuah rumah makan di dekat pasar Ujung Genteng, kita memutuskan tujuan selanjutnya, Curug Luhur, Cikaso.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi, dari Ujung Genteng menuju Cikaso kita harus naik angkot 2 kali. Ujung Genteng – Surade Rp 7.500, dan Surade – Cikaso Rp 6.000. Karena lelah setelah perjalanan 4 hari, beberapa dari kai sudah tidak sanggup untuk jalan kaki, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa angkot menuju Curug Luhur. Kalau mau naik angkot, kita berhenti di Jalan Raya Cikaso, di simpang tiga menuju Curug Luhur, dari situ anda harus berjalan 2km, medan menurun sehingga memudahkan perjalanan, atau anda bisa numpang truk2 pasir yang menuju Curug Luhur.
Pukul 11 kita sudah sampai di Curug Luhur. Sebelum memasuki kawasan Curug Luhur, anda dimintai Retribusi sebesar Rp 2.000,- per-orang oleh penduduk setempat. Air terjun yang masih sangat hijau, batu2an kapur dan tebing setinggi sekitar 50an meter mengelilingi Curug Luhur. Benar2 pemandangan yang menakjubkan, ini kali pertama bagi saya melakukan Wisata Air Terjun. Untuk keatas air terjun anda dapat melalui jalur di sebelah kanan air terjun, perjalanan memakan waktu kira-kira 30menit, soalnya perjalanan turun memakan waktu sekitar 10menit. Sesampainya disana kami berenang dan mandi, airnya benar2 segar, lebih dari cukup untuk melepas lelah. Tempat ini sangat bagus untuk camping, sumber air dekat, bisa mandi, bahan bakar cukup, benar-benar surga bagi para traveller.
Sore hari karena tidak ada kerjaan iseng mau nangkep kepiting dengan peralatan buatan, bambu yang dibelah ujungnya. 2 Jam berburu, hasilnya nihil, sepertinya kami  kekurangan pengalaman.
Rabu Pagi
Kami bersiap2 untuk pulang ke Bandung. Kembali ke rutinitas yang memuakkan, dan kehidupan yang penuh dengan kemunafikan. Sebelum pulang kami memutuskan untuk mandi, biar seger. Jam 11 kami siap2 angkat jangkar untuk pulang. Dari Curug Luhur kita numpang truk pengangkut semen menuju jalan raya Cikaso. Ternyata semua sudah kehabisan uang, kecuali ana, untuk sementara ana yang nalangin ongkos ke Sukabumi. Perjalanan ke Sukabumi dari Cikaso adalah neraka, perut kosong membuat kami menyerah pada keadaan, medan menurun berkelok2, jalanan bolong2 membuat badan kami sempoyongan seakan diputar2 di mesin cuci. Hampir semua dari kami mabok perjalanan. Sampai di Sukabumi pukul 20.00, untuk bis tujuan Bandung masih tersedia sampai Pukul 21.00, sisa waktu 1 jam kami gunakan untuk mencari makan, didekat terminal terdapat gerobak makanan dengan menu Ayam Bakar, cukup murah, Nasi Uduk + Ayam Bakar + Tempe2 = Rp 9.000,- Makanan terakhir dari Sukabumi melengkapi perjalanan kami.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: